This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Jumat, 25 Maret 2011
Sabtu, 19 Maret 2011
BAHAYA: Humanisme, Pluralisme, Demokrasi !!!
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Saudaraku, perjuangan rasanya tidak mengenal kata akhir, setiap waktu setiap masa, kita terus berhadapan dengan berbagai masalah. Ummat ini harus dipedulikan, dijaga, dihargai, diperjuangkan hak-haknya, dengan sekuat kemampuan yang kita miliki. Belum juga tuntas masalah Bank Century, kita sudah menghadapi masalah baru, “Gerakan Pemujaan Abdurrahman Wahid”. Kalau Bank Century berkaitan dengan harta benda, maka dalam masalah Gus Dur ini masalah AKIDAH. Ingat akidah, ini masalah terbesar Ummat ini!!!
Banyak orang mengelu-elukan Gus Dur sebagai tokoh: HUMANISME, PLURALISME, dan DEMOKRASI. Media-media massa sangat giat mencuci otak masyarakat dengan pujian-pujian berlebihan dalam 3 persoalan itu. Sampai 9 Fraksi DPR, termasuk partai-partai Islam, menyokong usulan agar Gus Dur diangkat menjadi pahlawan nasional.
Ini sangat bahaya, sangat berbahaya. Kalau sampai Pemerintah mengabulkan tuntutan anggota DPR itu, alamat bangsa kita akan diadzab oleh Allah dengan bencana-bencana memilukan di masa ke depan. Mengapa? Untuk tokoh yang penuh permusuhan kepada Islam, menghina Al Qur’an, pembela JIL, pro Israel, dll. itu ingin ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”. Sedangkan almarhum Buya Natsir, mantan Ketua DDII, yang jelas-jelas jasa-jasanya diakui Dunia Islam, sampai beliau mendapatkan Faishal Award dari Kerajaan Saudi, sampai wafatnya tidak pernah diakui sebagai pahlawan nasional. Baru beberapa waktu lalu, status kepahlawanan beliau diakui.
Begitu pula, almarhum Syafruddin Prawiranegara yang menjadi Gubernur BI pertama, pernah menyelamatkan Indonesia dengan menjadi Presiden Pemerintahan RI Darurat (PDRI), beliau sampai saat ini belum juga diakui sebagai pahlawan nasional. Jasa beliau besar, tapi tidak diakui oleh negara ini.
Saya yakin, jika Gus Dur sukses diangkat sebagai pahlawan nasional, itu artinya: Kita telah mengangkat manusia yang dimurkai Allah sebagai tokoh pujaan, idola nasional. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini sama saja dengan menghalalkan kehancuran, bencana, dan segala siksaan atas bangsa ini.
Ya, kalau Anda tidak percaya, lalukan saja apa yang Anda inginkan! Mari kita lihat akibatnya nanti! Saya hanya mengingatkan, sebagaimana waktu mengingatkan agar masyarakat jangan memilih SBY-Boed. Kalau kelak Anda hidup menderita, maka jangan salahkan, selain diri sendiri.
Saudaraku… Gus Dur banyak dipuji-puji sebagai tokoh Humanisme, Pluralisme, Demokrasi. Sebenarnya istilah-istilah itu apa maksudnya? Apa maknanya, dan bagaimana konsekuensinya? Disini kita akan bahas tentang bahasa besar di balik kampanye slogan Humanisme, Pluralisme, Demokrasi.
KADAR PRAKTIS-FILOSOFIS
Secara sederhana humanisme bisa diartikan sebagai kemanusiaan, pluralisme sebagai paham keragaman, dan demokrasi sebagai “penentuan keputusan dengan suara terbanyak”.
Ketika bicara tentang isu Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, bisa dalam dua tataran. Pertama, tataran praktis, yaitu manfaat dari humanisme, pluralisme, demokrasi bagi kehidupan masyarakat. Kedua, dalam tataran filosofis, yaitu makna terdalam dari humanisme, pluralisme, demokrasi, serta pengaruhnya yang bersifat fundamental bagi keyakinan (ideologi) manusia.
Dalam tataran praktis, humanisme diamalkan misalnya dengan menyayangi orang sakit, memberi sedekah pengemis, menolong anak kecil yang jatuh, memberi bantuan sosial, mengirim Prita dengan koin-koin, menolong korban bencana alam, dsb. Jadi, tidak masalah disini, secara praktis.
Pluralisme secara praktis bisa diterjemahkan sebagai, menghargai perbedaan pendapat, mengakui keragaman potensi, kemampuan, mengakui perbedaan adat-kebiasaan, mengakui perbedaan perilaku hidup, dan lain-lain. Demokrasi diterjemahkan secara praktis, misalnya berunding dengan orang lain, bermusyawarah, melakukan undian penentuan sikap, pemilihan ketua kelompok, dan lain-lain.
Dalam tataran praktis, ya kita bisa memahaminya. Bahkan kita kerap memanfaatkan fungsi-fungsi humanitas, pluralitas, dan demokrasi itu. Ajaran Islam sangat mengakui tentang sikap tarhim (penyayang), fungsi syura (musyawarah untuk muakat), dan menghargai perbedaan pendapat fiqih (khilafiyyah).
Tetapi ketika paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dibawa ke tataran ideologis, konsep pemikiran, corak keyakinan, kita akan menyaksikan betapa bahayanya konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu. Amat sangat berbahaya. Bahkan saya yakin, Anda tidak melihatnya sedemian serius masalah in.
Konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah merupakan ajaran agama tersendiri. Bahkan ia sangat agressif dalam menyirnakan peranan agama-agama tradisional, termasuk Islam di dalamnya. Kalau seseorang benar-benar tahu, ada apa di balik Slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, niscaya dia benar-benar akan melakukan TAUBAT NASHUHA. Sungguh, paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sangat membahayakan semua agama, terutama Islam.
BAHAYA HUMANISME
Islam jelas-jelas mengajarkan sikap pengasih, penyayang, bahkan sekalipun kepada binatang. Nabi Saw mengatakan, “Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fis sama’i” (kasihi siapa yang ada di bumi, maka akan mengasihimu siapa yang ada di langit.”
Tetapi ideologi Humanisme itu berbeda. Ia bukan sifat-sifat pengasih, penyayang, seperti yang diajarkan Islam. Namun ia adalah suatu keyakinan untuk menjadikan manusia sebagai tujuan tertinggi kehidupan ini. Bukan matahari, bulan, batu, pohon, atau kuburan yang disembah-sembah disini, tetapi yang disembah adalah human interest (kepentingan manusia) itu sendiri. Humanisme itu suatu paham untuk mengagung-agungkan kepentingan manusia, mengalahkan kepentingan apapun yang lain.
Aplikasi dari paham ini, segala apa yang merugikan kebebasan, kepentingan, selera manusia, harus ditolak jauh-jauh. Termasuk hak Allah untuk mencampuri urusan manusia, juga harus ditolak. Maka Anda saksikan, para penganut humanisme sejati, mereka tidak mau menghukum anak-anaknya, memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya, sekalipun untuk memilih agama, memilih tindakan seks, memilih transaksi bisnis, dsb.
Apapun yang menjerat kebebasan manusia, termasuk aturan-aturan agama, harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Inilah ideologi asli kaum Humanis. Maka dalam Al Qur’an dikatakan, “Afa ra’aita manit takhadza ilahahu hawaha” (apakah engkau Muhammad tahu, siapa yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya). Ini benar-benar nyata, dan disebutkan demikian dalam Al Qur’an.
Sri Mulyani dalam dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV pernah mengatakan, setelah dia pulang dari studi di Amerika, kurang-lebih dia mengatakan, “Kemudian saya kembali ke Indonesia, kemudian menemukan suatu kehidupan yang concern utama-nya adalah manusia itu sendiri.” Ucapan Sri Mulyani ini adalah contoh bagus pemikiran seorang Humanis.
Orang-orang Humanis akan sangat banyak mengecam aturan-aturan Islam. Jangankan aturan hudud, aturan memerintahkan anak-anak shalat saja mereka tentang habis-habisan. Sebab memang concern utama mereka adalah menjadikan hawa nafsu itu sebagai sesembahan.
Pahami Makna “Agama”!
Bismillahirahmaanirrahiim.
Akhir-akhir ini saya kebanjiran komentar-komentar keras dari para pendukung Gusdur. Di antara komentar itu ada yang langsung dibuang, karena terlalu sarkastik. Mereka marah dengan terbitnya buku, “Cukup 1 Gusdur Saja“, yang terbit beberapa bulan lalu.
Tetapi anehnya, mereka tidak pernah marah ketika kehormatan Islam diinjak-injak oleh Gusdur selama puluhan tahun. Seolah, di dunia ini, Gusdur boleh secara bebas menghina Islam, lalu kita dilarang 100 % menyampaikan pembelaan atas kehormatan Islam. Masya Allah, itulah “sikap adil” yang diyakini oleh orang-orang ini. Allahu Akbar!!!
Dalam buku itu, alhamdulillah -dengan segala pertolongan Allah Ta’ala- saya membantah secara telak pemikiran-pemikiran dominan Gusdur. Buku itu sangat telak, sehingga bila saya sendiri membacanya lagi, rasanya masih tercenung. Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya kepada Allah jua.
Metode yang saya gunakan dalam menulis buku itu, antara lain: (1) Menyampaikan fakta kejadian seperti apa adanya, seperti yang dimuat oleh media-media massa, baik umum maupun media Islam. (2) Membuat analisis kejadian itu sesuai timbangan Islam, baik melalui analisis Al Qur’an, As Sunnah, kaidah fiqih Islam, kaidah akidah Islam, dan pendapat tokoh-tokoh Muslim. (3) Tambahan, berupa analisis politik dan sosial.
Ketika para pemuja Gusdur marah-marah, hal itu mengingatkan kita pada suatu persoalan prinsip: Sejauhmana kita memahami konsep agama Islam ini? Mengapa harus marah ketika ditunjukkan kebenaran dengan dasar analisis fakta, Kitabullah, dan As Sunnah?
Berikut ini saya sampaikan runutan pokok-pokok pemikiran seputar makna agama yang selama ini kita anut.
[1] Agama, berasal dari a-gama. Kata orang, arti a-gama adalah tidak kacau. Orang beragama, agar hidupnya tidak kacau. Tetapi yang dimaksud disini adalah agama sebagai religion atau din.
[2] Dalam pemahaman formal, yang dinamakan agama ya seperti Islam, Nashrani, Yahudi, Zoroaster, Hindu, Budha, Konghuchu, dll. Pokoknya yang dikenal sebagai nama-nama agama formal di dunia. Tetapi pandangan ini kurang memuaskan, sebab banyak manusia menjalani kehidupan di luar aturan-aturan agama, tetapi mereka tidak mau disebut atheis.
[3] Bertrand Russel, seorang ahli Fisika sekaligus filosof matarialis modern, dia pernah mengatakan, bahwa: “Atheisme sebenarnya agama juga.” Pernyataan ini sangat menarik. Atheisme disebut agama, padahal mereka mengaku sangat anti agama. Seolah Bertrand Russel ingin mengatakan, “Orang yang ‘anti agama’, hakikat agama mereka ya sikap ‘anti agama’ itu.”
[4] Sebagian orang mengklaim, “Saya tidak percaya kepada doktrin-doktrin agama. Saya lebih percaya pada akal bebas, free thinking. Tidak ada dogma, yang ada adalah kebebasan berpikir.” [Komentar: Berarti agama orang itu, ya kebebasan berpikir itu sendiri. Dia tidak boleh marah, kalau manusia yang lain memilih "ketidak-bebasan berpikir"]. Kemudian ada yang mengklaim, “Bagi kami agama itu adalah rasio. Apa saja yang sesuai rasio, itulah agama kami. Rasio adalah tuhan bagi kami.” [Komentar: Berarti, agama mereka adalah agama rasio itu sendiri, sebab mereka mau terikat dengan aturan yang mendewa-dewakan rasio. Sebaliknya, mereka tidak boleh marah kepada orang yang mengagungkan ajaran "non rasio"]. Ada lagi yang lain, “Sudah, sudah, sudah. Semua ini omong kosong. Saya tidak percaya nilai apapun, saya tidak percaya kebenaran. Saya tidak percaya apapun. Saya memilih jalan hidup kosong, nihil, tanpa nilai apapun.” [Komentar: Nah, dia juga beragama dengan nihilisme-nya itu. Iya kan? Dia memuja tuhan "kosong", tuhan "nilai nol", tuhan "tanpa nilai". Iya kan]. ===> Singkat kata, manusia itu makhluk IDEOLOGIS. Mereka mau memilih apapun, itulah agamanya. Jadi, pada hakikatnya tidak ada manusia yang tak beragama.
Memahami Operasi Klandestin
Memahami ilmu intelijen bagi Ummat Islam sifatnya WAJIB. Mengapa? Sebab musuh-musuh Islam banyak menggunakan metode intelijen untuk melumpuhkan kekuatan Ummat, atau mempersiapkan perang untuk menghancurkan kehidupan Ummat. Mempelajari teknik-teknik makar musuh Islam, adalah wajib.
Hanya saja, karena ilmu intelijen itu bersifat spesifik, aksesnya terbatas, metode analisis datanya rumit, serta membutuhkan tingkat kecerdasan tinggi (oleh itu ia disebut intelijen), sehingga tidak semua Muslim sanggup memikulnya, maka sifat wajibnya Fardhu Kifayah. Jika sudah ada elemen Ummat yang memikulnya, maka yang lain tidak dibebani kewajiban. Urusan ini perlu dipikul oleh pihak-pihak kaum Muslimin yang mampu, berminat, serta memiliki ketahanan mental tinggi. (Tidak heran jika untuk melahirkan seorang agen intelijen yang tangguh, sering melalui proses kaderisasi yang amat sangat berat).
Dulu di masa Nabi Saw, sebagian Shahabat dilibatkan dalam operasi-operasi intelijen, seperti pengintaian, ekspedisi, mata-mata, penyamaran, hingga menyimpan data-data kaum munafik. Jadi, apapun yang dibutuhkan bagi kejayaan peradaban Islam, wajib disediakan, sekuat kemampuan dan sesuai kesempatan. Di jaman 1400 tahun lalu saja, Ummat Islam sudah peduli urusan intelijen, akankah saat ini kita merasa tabu?
Dalam intelijen banyak operasi-operasinya, misalnya mata-mata (spionase), mengumpulkan data (memakai informan), penyusupan (infiltrasi), desepsi (penyusupan disertai gerakan “pembusukan”), dll. Dan ada satu operasi yang sangat istimewa dan paling berbahaya bagi Ummat, yaitu: KLANDESTIN (clandestine).
Dari pengalaman-pengalaman selama ini, Ummat Islam sering menjadi bulan-bulanan operasi satu ini. Klandestin bisa dianggap sebagai operasi intelijen paling komplek dan rumit. Secara umum, ia diartikan sebagai gerakan rahasia, gerakan bawah tanah. Atau ada juga yang menyebutnya sebagai operasi penggalangan, mobilisasi.
00.08
Hidayahtullah Abdi Robhani

